Untuk Direnungkan!!!

ABAIKAN DIRI ANDA SENDIRI

Alexander The Great adalah raja Romawi yang sangat terkenal dengan kepemimpinannya. Berikut adalah salah satu cerita mengenai kepemimpinannya.

Suatu waktu Alexander The Great memimpin pasukannya melintasi gurun pasir yang panas dan kering. Setelah hampir dua minggu berjalan, ia dan pasukannya kelelahan dan hampir mati karena kehausan. Tetapi Alexander tetap memimpin pasukannya untuk terus berjalan penuh semangat. Pada siang yang terik, dua orang pasukannya datang menemui Alexander dengan membawa semangkuk air yang mereka ambil dari sebuah kolam air yang telah kerontang. Kolam air itu kering dan hanya ada sedikit air yang tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh pasukan. Melihat hal ini, Alexander membuang air itu ke gurun pasir.
 
Sang Raja berkata, “Tidak ada gunanya bagi seseorang untuk minum di saat banyak orang sedang kehausan!” Demikianlah kepemimpinan itu. Anda tidak bisa memperlakukan orang-orang anda hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan anda. Anda harus menunjukkan ketulusan dan keteguhan diri anda dengan sama-sama merasakan apa yang orang-orang anda rasakan.

Agama dan demokrasi bukanlah dua hal yang bertentangan satu sama lain.

Titik temu antara agama dan demokrasi terutama terletak pada fungsinya. Agama hadir di muka bumi sebagai rahmatan lil’alamin [pembawa rahmat bagi semesta], atau sebagai juru selamat. Untuk itu, agama senantiasa membawa nilai-nilai dasar kebajikan seperti kejujuran, keadilan, kelembutan, dan kebersamaan [saling memberi dan menghormati] yang harus diimplementasikan untuk menciptakan kehidupan yang damai, aman, dan sentosa [sejahtera lahir batin]. 

Seperti juga agama, demokrasi yang diciptakan melalui kontrak sosial dengan prinsip-prinsip dasar seperti liberte [kebebasan], egalite [persamaan], dan fraternite[kebersamaan], tujuan utamanya adalah untuk menciptakan kehidupan yang damai, aman, dan sentosa [sejahtera lahir batin]. Baik agama maupun demokrasi, keduanya menjamin hak-hak minoritas untuk hidup bersama secara adil. Karena, seperti kita yakini, kebenaran dalam agama adalah sesuatu yang tak bisa divoting,  artinya kebenaran agama itu tak akan berkurang substansinya disebabkan kerena mayoritas atau minoritas pemeluknya. Mayoritas dan minoritas dalam konteks pemeluk agama hanyalah sekadar kuantitas yang tidak berpengaruh pada kualitas dan substansinya. Pemeluk agama Islam yang mayoritas di Indonesia misalnya, bukan berarti lebih benar kebaragamaannya dengan pemeluk Islam yang berada  di Amerika, Inggris, Australia, atau negara-negara lain yang pemeluk Islamnya minoritas.

Demikian juga dalam demokrasi, kaum minoritas berhak untuk hidup bersama secara adil. Meskipun dalam praktiknya demokrasi meniscayakan pemilu, pemungutan suara atau voting. Namun bukan berarti yang mayoritas bisa berbuat sekehendak hatinya sehingga merugikan yang minoritas. Bahkan dalam demokrasi, yang minoritas punya hak untuk beroposisi dan mengontrol yang  mayoritas. Kalaupun ada sedikit perbedaan antara agama dan demokrasi, barangkali terletak pada bentuk  masyarakat ideal [yang dicita-citakan] oleh keduanya. Dalam perspektif demokrasi, masyarakat ideal itu disebut sebagai masyarakat warga [civil society]. Sedangkan dalam perspektif agama, masyarakat ideal itu disebut sebagai masyarakat beradab [civilized society]. Masyarakat beradab melindungi kelompok agama minoritas tetapi tidak menjamin setara hak dan kewajiban masing-masing individu sebagai warga negara [agama minoritas bisa menjadi warga negara kelas dua]. Sedangkan, dalam masyarakat warga dijamin kesetaraan hak dan kewajiban masing-masing warga tanpa membedakan agamanya. 

Di sinilah letak keistimewaan para founding fathers kita yang telah membangun Indonesia dengan dasar Pancasila dan bukan berdasarkan satu agama tertentu. Bila Negara ini dibangun berdasarkan agama tertentu saja, tentunya bisa dipastikan akan terdapat perlakukan diskriminatif terhadap setiap pemeluk agama yang berbeda dengan agama negara. Bagi Indonesia, sebagai negara yang sangat plural, termasuk dari segi agama, Pancasila merupakan pilihan yang tepat untuk dijadikan dasar sekaligus pedoman dalam setiap langkah kita dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Pancasila merupakan bentuk kompromi yang sangat harmonis dari setiap agama, suku, adat istiadat, dan seluruh kelompok kepentingan yang ada di Indonesia.

Dalam konteks ini pulalah, kiranya penting bagi kita untuk tetap mempertahankan bunyi Pasal 29 UUD 1945 yang sebagian besar sudah kita amandemen itu. Kita patut bersyukur, meskipun pada saat menjelang Sidang Tahunan MPR tahun lalu ada beberapa komponen masyarakat dan partai politik tertentu yang ingin mengubah bunyi pasal 29 itu, toh pada akhirnya kita berhasil membangun komitmen  untuk tetap mempertahankannya. Yang membuat kita lebih bersyukur lagi, komitmen itu kita ambil melalui kesepakatan bersama, tanpa voting. Dengan begitu, tidak ada satu kelompok pun yang merasa menang atau kalah.

Semangat kebersamaan semacam ini harus terus menerus kita pupuk, karena kita yakin, di negeri ini masih ada orang-orang yang gemar memecah belah, memanas-manasi, dan meprovokasi situasi sehingga dimana-mana acap kali kita dapatkan pertikaian antar kelompok, antar suku, dan antar agama. Tapi, insya Allah, sepanjang kita mampu membangun komitmen untuk hidup bersama, saling menghormati, dan tidak saling menyalahkan, niscaya pertikaian sesama anak bangsa itu bisa kita cegah bersama-sama. Semoga! 

Karena aku berkehendak kuat untuk mengabdikan diriku

sepenuhnya untuk menemukan kebenaran, maka aku pikir

perlu…untuk melakukan penolakan, seolah-olah apapun

yang aku temukan mengandung sesuatu yang meragukan itu

benar-benar salah, sehingga aku hanya bisa menemukan

sesuatu kalau apapun yang ada itu mutlak tak bisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s